ORANG TUAKU TOXIC

Sejak kecil, aku selalu menjadi sasaran pelampiasan amarah ibu. Aku berbuat salah sedikit saja akan membuat amarah orang tuaku terbakar hebat, alih-alih menasehati dengan lemah lembut, mereka malah menghukum dan melemparkan cacian dari lidah lidah mereka. Di usia sekitar tujuh tahun, aku bahkan merasa aku adalah anak tiri mereka. Aku benar-benar merasa ketimpangan terhadap perlakuan mereka padaku. Saat adik yang berbuat salah, mereka menegur penuh kasih, namun ketika aku yang berbuat salah mereka langsung memarahi dan memberi hukuman keras padaku.

Namun begitu, rasa ingin berbaktiku begitu kuat, setiap ibuku mengerjakan pekerjaan rumah, aku selalu merasa ingin membantu dan turun tangan, tapi ibu selalu memghalau dan melarang. ” Ahhh, sana, sana, sana! Ibu risih kamu bantu, kamu belum tahu mengerjakannya, bikin lamban saja!” Selalu seperti itu. Dengan kecewa, aku membatalkan niatku. Bukan cuma sekali dua kali saja, namun setiap hari dan setiap kali seperti itu. Ibuku tak suka jika pekerjaan dapurnya kubantu. Akhirnya, lambat laun aku mengerti bahwa ibu memang tak menginginkannya. Menjadi kebiasaan untukku sampai dewasa untuk tidak membantu pekerjaannya. Masalah mulai bisa kulihat ketika aku semakin dewasa. Ibupun akhirnya dibelakangku sering bercerita kepada keluarga, tetangga dan teman-temannya bahwa ia selalu mengerjakan pekerjaan rumah sendirian berlelah-lelah tanpa dibantu anaknya. Mulailah orang-orang mengingatku sebagai anak pemalas yang tak tau diri, yang tak bisa melakukan apa-apa dan tak bisa diandalkan. Aneka stempel negatif menjadi identitas yang tak pernah kuharapkan yang harus ku terima. Simpel, tapi lambat laun sangat menyakitiku.

Lingkunganku begitu buruk. Aku hidup dalam lingkaran orang-orang yang perkataannya kotor. Ayahku seorang buruh harian yang bahkan tidak menyelesaikan pendidikan dasarnya. Jadi, seringkali obrolannya begitu kasar, bahkan ketika bercandapun sering menyinggung hati. Mungkin itu sebabnya ibuku jadi ketularan toxic, terlebih para tetanggapun tak jauh beda sikapnya. Sejak kecil aku sering merasa tertekan dan tak bahagia, dan sempat bertanya tanya kenapa, kenapa. Semakin aku menua, aku mulai memahami masalahnya bermula dimana.

Aku menikah, lalu diceraikan suamiku karena masalahnya dengan orang tuaku pula. Aku terasa dihimpit diantara batu, suami memaksaku memilih ibu atau dia saja. Ibupun mengancamku untuk memilihnya jika tak ingin menjadi anak yang durhaka. Sempat aku mengikuti suami saja, namun apa akibatnya, ibuku meratap dan berkata”aku bahagia di atas airmatanya.” Padahal masalahnya adalah sepele, masalah utama adalah orang tuaku tak suka melihat aku hidup susah dengan suamiku saja. Aku bilang, bahwa harta bukan segalanya, aku baik-baik saja. Itu sebabnya ibu merasa sedih dan berkata pernikahanku di atas airmatanya. Seringkali ia menegaskan padaku bahwa aku akan menjadi durhaka jika tak mengikuti kehendaknya. Karena melankolisnya ibu itulah yang membuat suami pergi meninggalkanku, dan bayiku.
Aku memilih ibu. 12 tahun aku hidup sendiri. Menjanda dengan segala prahara yang sulit kucerita. Pahit getir ku jalani.

Ketika aku mengalami pencerahan dalam hal spiritual, aku menemukan kekuatan dalam hidupku, aku memilih menutupi tubuh dengan cadarku, tapi lagi-lagi penghalang pertamaku adalah, ibu, lalu ayahku, lalu tetanggaku.

Suatu hari, Allah mengirimku pria lagi, menjadi suami kedua dan awalnya hidup bahagia. Namun….ah nanti ku ceritakan.

Yang lebih membuatku resah, takdir malah memaksaku untuk tinggal dirumah orang tua meski aku sudah berkeluarga. Sebelumnya aku sudah sangat senang karena sudah memiliki rumah sendiri meski tak megah namun aku bisa menjadi mandiri, namun masalah datang, takdir membuat rumahku terjual dan jatuh dalam keterpurukan ekonomi. Jangankan untuk menabung, untuk makan saja harus merangkak mencari rezeeki, tak ada jalan lain selain tinggal di rumah ayah dan ibu. Saat belum menikah, tinggal dengan orang tua bukan masalah besar saat mereka menunjukkan sikap buruknya, namun akan beda rasanya ketika tinggal dirumah orang tua saat sudah ada suami. Aku berharap suamiku kuat hati dan tebal telinga untuk mengabaikan setiap omongan sampah.

Bukan aku tak pernah membicarakan baik-baik pada ibu, menasehati dan memberikan gambaran, namun sepertinya memang sudah sifatnya berego tinggi dan serba tinggi itu menjadikannya susah sadar. Semakin menua semakin menjadi kebawelannya. Aku hanya berurut dada. Aku ini sudah kenyang makan sumpahnya, setiap hal selalu bicara buruk tentangku,bahkan saat aku sedang diam-pun omongannya meluncur lancar menjadikan hatiku berdarah darah. “Kamu itu susah di dunia ini, melarat hidupmu akibat senang membantah ibu.” Atau kata kata yang keluar tak jauh jauh dari kata “susah, melarat”. Itu menjadi sebuah doa, tentu saja menjadi sebuah doa untukku.

Kadang aku ingin meratap:“ibu, sebenci apakah kau padaku, apa kesalahanku sehingga sejak kecil sampai setua ini aku adalah benda terempuk tempat kau buang segala kotoran dan kebencian?”